Selasa, 04 Maret 2014

PEMEROLEHAN BAHASA ANAK



PEMEROLEHAN BAHASA ANAK
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas Awal

Dosen Pengampu: Drs. Suwandi, M. Pd.


Nama Anggota Kelompok:
1.      Hardika Tri Wicaksono            (1401412001)
2.      Septi Risnawati                          (1401412498)
3.      Nurhayati                                   (1401412509)
4.      Tiyas Afriyani                           (1401412413)
Rombel: 3A




PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
KATA PENGANTAR
      
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas rahmat dan kemudahan yang telah diberikan kepada kami, sehingga alhamdulillah akhirnya kami telah menyelesaikan tugas mata kuliah Ketrampilan Bernahasa dan Bersastra Indonesia berupa makalah tentang Ejaan Yang Disempurnakan. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran dari para pembaca akan membantu kami untuk memperbaiki makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Kami berharap semoga para pembaca dapat mendapatkan manfaat setelah membaca makalah ini dan kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, bahasa atau yang lainnya.


















DAFTAR ISI

            HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
            KATA PENGANTAR ............................................................................................ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah............................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah ....................................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan ......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Bahasa ...................................................................................... 3
B.     Hakikat Pemerolehan Bahasa Anak ........................................................... 3
C.     Teori Pemerolehan Bahasa Anak ............................................................... 5
D.    Ragam Pemerolehan Bahasa Anak .......................................................... 10
E.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Anak ............. 10
F.      Strategi Pemerolehan Bahasa Anak ......................................................... 16
G.    Pengaruh Kegiatan Pembelajaran dalam Pemerolehan Bahasa Anak ...... 19
BAB III PENUTUP
A.       Kesimpulan .............................................................................................. 21
B.       Saran ......................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 22











BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
      Bahasa merupakan sistem simbol vokal yang arbitrer dalam suatu kebudayaan tertentu,yang memiliki khas dan ciri tertentu. Digunakan oleh suat masyarakat untuk berinteraksi dan bekerja sama. Anak-anak belajar berkomunikasi dengan orang lain melalui berbagai cara. Meskipun cara yang digunakan pada setiap anak berbeda-beda. Pengetahuan tentang hakikat perkembangan bahasa anak, perkembangan bahasa lisan dan tulis yang terjadi pada mereka, serta perbedaan individual dalam pemerolehan bahasa sangat penting bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa anak, khususnya pada waktu mereka belajar membaca dan menulis permulaan. Sehingga perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya. Itulah sebabnya calon guru sekolah dasar perlu menguasai berbagai konsep yang terkait dengan perkembangan dan pemerolehan bahasa anak.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian bahasa?
2.      Apakah hakikat pemerolehan bahasa anak?
3.      Apa sajakah teori pemerolehan hahasa anak?
4.      Apa sajakah ragam pemerolehan bahasa anak?
5.      Faktor-Faktor apakah yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak?
6.      Bagaimana strategi pemerolehan bahasa anak?
7.      Apakah pengaruh pembelajaran dalam pemerolehan bahasa anak?




C.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian bahasa.
2.      Mengetahui hakikat pemerolehan bahasa anak.
3.      Mengetahui teori-teori pemerolehan hahasa anak.
4.      Mengetahui ragam pemerolehan bahasa anak.
5.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak.
6.      Mengetahui bagaimana strategi pemerolehan bahasa anak.
7.      Mengetahui pengaruh pembelajaran dalam pemerolehan bahasa anak.























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bahasa
a.       Menurut Oka dalam bukunya yang berjudul Linguistik tahun 2004 bahasa adalah: Sistem simbol pokal yang arbitrer ( Gaya bahasa yang bebas tapi menurut EYD) yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertent.atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu, berinteraksi dan berkomunikasi.
b.      Menurut Hendri Guntur Tarigan dalam bukunya pembelajaran wacana tahun 1987 Bahasa adalah: Suatu sistem bunyi ajuran (kata yang di ucapkan yang mengandung kalimat) yang tersusun dari lambang-lambang mana suka yang bersifat unik dan khas yang di bangun dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan berhubungan erat dengan budaya tempatnya berada.
c.       Menurut Ss Daryanto dalam kamus Besar Bahasa indonesia lengkap tahun 1997 Bahasa adalah: Sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama berinteraksi,dan mengidentifikasi diri dalam percakapan yang baik dan sopan santun.
d.      Dari pengertian diatas maka dapat saya simpulkan Bahasa adalah: Sistem simbol vokal yang arbitrer dalam suatu kebudayaan tertentu,yang memiliki khas dan ciri tertentu. Digunakan oleh suatu masyarakat untuk berinteraksi,dan bekerja sama.

B.     Hakikat Pemerolehan Bahasa Anak
      Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa menurut Maksan (1993:20) adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar, implisit, dan informal.
      Lyons (1981:252) menyatakan suatu bahasa yang digunakan tanpa kualifikasi untuk proses yang menghasilkan pengetahuan bahasa pada penutur bahasa disebut pemerolehan bahasa. Artinya, seorang penutur bahasa yang dipakainya tanpa terlebih dahulu mempelajari bahasa tersebut.
      Stork dan Widdowson (1974:134) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa dan akuisisi bahasa adalah suatu proses anak-anak mencapai kelancaran dalam bahasa ibunya.
      Huda (1987:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses alami di dalam diri seseorang menguasai bahasa. Pemerolehan bahasa biasanya didapatkan hasil kontak verbal dengan penutur asli lingkungan bahasa itu. Dengan demikian, istilah pemerolehan bahasa mengacu ada penguasaan bahasa secara tidak disadari dan tidak terpegaruh oleh pengajaran bahasa tentang sistem kaidah dalam bahasa yang dipelajari.
      Pada hakikatnya pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998). Selain pendapat tersebut Kiparsky dalam Tarigan (1988) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa bersangkutan. Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang sistem kaidah yang ada didalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. 




C.     Teori Pemerolehan Bahasa Anak
      Berikut ini adalah beberapa teori pemerolehan bahasa pada anak diantaranya yaitu:
1.      Teori Pemerolehan Bahasa Behavioristik
Menurut pandangan kaum behavioristik atau kaum empirik atau kaum antimentalistik, bahwa anak sejak lahir tidak membawa strutur linguistik. Artinya, anak lahir tidak ada struktur linguistik yang dibawanya. Anak yang lahir dianggap kosong dari bahasa. Mereka berpendapat bahwa anak yang lahir tidak membawa kapasitas atau potensi bahasa.
Brown dalam Pateda (1990:43) menyatakan bahwa anak lahir ke dunia ini seperti kain putih tanpa catatan-catatan, lingkungannyalah yang akan membentuknya yang perlahan-lahan dikondisikan oleh lingkungan dan pengukuhan terhadap tingkah lakunya. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar. Pengalaman dan proses belajar yang akan membentuk akuisisi bahasanya. Dengan demikian, bahasa dipandang sebagai sesuatu yang dipindahkan melalui pewarisan kebudayaan, sama halnya seperti orang yang akan belajar mengendarai sepeda.
Menurut Skinner (Suhartono, 2005:73) tingkah laku bahasa dapat dilakukan dengan cara penguatan. Penguatan itu terjadi melalui dua proses yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, yang paling penting di sini adalah adanya kegiatan mengulangulang stimulus dalam bentuk respon. Oleh karena itu, teori stimulus dan respon ini juga dinamakan teori behaviorisme.
Dikaitkan dengan akuisisi bahasa, teori behavioris mendasarkan pada proses akuisisi melalui perubahan tingkah laku yang teramati. Gagasan behavioristik terutama didasarkan pada teori belajar yang pusat perhatian tertuju pada peranan lingkungan, baik verbal maupun nonverbal. Teori belajar behavioris ini menjelaskan bahwa perubahan tingkah laku dilakukan dengan menggunakan model stimulus (S) dan respon (R) Dengan demikian, akuisisi bahasa dapat diterangkan berdasarkan konsep SR. Setiap ujaran dan bagian ujaran yang dihasilkan anak adalah reaksi atau respon terhadap stimulus yang ada. Apabila berkata, “Bu, saya minta makan”, sebenarnya sebelum ada ujaran ini anak telah ada stimulus berupa perut terasa kosong dan lapar. Keinginan makan, antara lain dapat dipenuhi dengan makan nasi atau bubur. Bagi seorang anak yang beraksi terhadap stimulus yang akan datang, ia mencoba menghasilkan sebagian ujaran berupa bunyi yang kemudian memperoleh pengakuan dari orang yang di lingkungan anak itu.
Kaum behavioris memusatkan perhatian pada pola tingkah laku berbahasa yang berdaya guna untuk menghasilkan respon yang benar terhadap setiap stimulus. Apabila respon terhadap stimulus telah disetujui kebenarannya, hal itu menjadi kebiasaan. Misalnya seorang anak mengucapkan , "ma ma ma",dan tidak ada anggota keluarga yang menolak kehadiran kata itu, maka tuturan "ma ma ma", akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu akan diulangi lagi ketika anak tadi melihat sesosok tubuh manusia yang akan disebut ibu yang akan dipanggil "ma ma ma". Hal yang sama akan berlaku untuk setiap kata-kata lain yang didengar anak.
Teori akuisisi bahasa berdasarkan konsep behavioris menjelaskan bahwa anak-anak mengakuisisi bahasa melalui hubungan dengan lingkungan, dalam hal ini dengan cara meniru. Dalam hubungan dengan peniruan ini Pateda (1990:45) menyatakan bahwa faktor yang penting dalam peniruan adalah frekuensi berulangnya satu kata dan urutan kata. ujaran-ujaran itu akan mendapat pengukuhan, sehingga anak akan lebih berani menghasilkan kata dan urutan kata. Seandainya kata dan urutan kata itu salah, maka lingkungan tidak akan memberikan pengukuhan. dengan cara ini, lingkungan akan mendorong anak menghasilkan tuturan yang gramatikal dan tidak memberi pengukuhan terhadap tuturan yang tidak gramatikal.
2.      Teori Pemerolehan Bahasa Mentalistik
Menurut pandangan kaum mentalis atau rasionalis atau nativis, proses akuisisi bahasa bukan karena hasil proses belajar, tetapi karena sejak lahir ia telah memiliki sejumlah kapasitas atau potensi bahasa yang akan berkembang sesuai dengan proses kematangan intelektualnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Chomsky (1959) bahwa anak yang lahir ke dunia ini telah membawa kapasitas atau potensi. Potensi bahasa ini akan turut menentukan struktur bahasa yang akan digunakan. Pandangan ini yang akan kelask disebut hipotesis rasionalis atau hipotesis ide-ide bawaan yang akan dipertentangkan dengan hipotesis empiris yang berpendapat bahwa bahasa diperoleh melalui proses belajar atau pengalaman.
Seperti telah dikatakan di atas bahwa anak memiliki kapasitas atau potensi bahasa maka potensi bahasa ini akan berkembang apabila saatnya tiba. Pandangan ini biasanya disebut pandangan nativis (Brown, 1980:20). Kaum mentalis beranggapan bahwa setiap anak yang lahir telah memiliki apa yang disebut LAD (Language Acquisition Device). Kelengkapan bahas ini berisi sejumlah hipotesis bawaan. Hipotesis bawaan menurut para ahli berpendapat bahasa adalah satu pola tingkah laku spesifik dan bentuk tertentu dari persepsi kecakapan mengategorikan dan mekanisme hubungan bahasa, secara biologis telah ditemukan (Comsky, 1959).
Mc Neill (Brown, 1980:22) menyatakan bahwa LAD itu terdiri atas:
a)      kecakapan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang      
lain.
b)      kecakapan mengorganisasi satuan linguistik ke dalam sejumlah kelas
yang akan berkembang kemudian.
c) pengetahuan tenteng sistem bahasa yang mungkin dan yang tidak mungkin, dan kecapan menggunakan sistem bahasa yang didasarkan pada penilaian perkembangan sistem linguistik, Dengan demikian, dapat melahirkan sistem yang dirasakan mungkin diluar data linguistik yang ditemukan.
Pandangan kaum mentalis yang perlu diperhatikan adalah penemuan mereka tentang sistem bekerjanya bahasa anak. Chomsky dan kawan-kawan berpendapat bahwa perkembangan bahasa anak bukanlah perubahan rangkaian proses yang berlangsung sedikit semi sedikit pada struktur bahasa yang tidak benar, dan juga standia lanjut. Akan tetapi standia yang bersistem yang berbentuk kelengkapan-kelengkapan bawaan ditambah dengan pengalaman anak ketika ia melaksanakan sosialisasi diri. Kelengkapan bawaan ini kemudian diperluas, dikembangkan, dan bahkan diubah.
Dalam hubungan anak membawa sejumlah kapasitas dan potensi, kaum mentalis memberikan alasan-alasan sebagai berikut:. Semua manusia belajar bahasa tertentu; semua bahasa manusia sama-sama dapat dipelajari oleh manusia; semua bahasa manusia bebeda dalam aspek lahirnya, tetapi semua bahasa mempunyai ciri pembeda yang umum, ciri-ciri pembeda ini yang terdapat pada semua bahasa merupakan kunci terhadap pengertian potensi bawaan bahasa tersebut. Argumen ini mengarahkan kita kepada pengambilan kesimpulan bahwa potensi bawaan bukan saja potensi untuk dapat mempelajari bahasa, tetapi hal itu merupakan potensi genetik yang akan menentukan struktur bahasa yang akan dipelajarinya.
3.       Teori Akuisisi Bahasa Kognitif
Dalam psikolingustik, teori kognitif ini yang memandang bahasa lebih mendalam lagi. Para penganut teori ini, berpendapat bahwa kaidah generatif yang dikemukakan oleh kaum mentalis sangat abstrak, formal, dan eksplisit serta sangat logis.
Meskipun demikian, mereka mengemukakan secara spesifik dan terbatas pada bentuk-bentuk bahasa. Mereka belum membahas hal-hal menyangkut dalam lapisan bahasa, yakni ingatan, persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang saling berpengaruh dalam struktur jiwa manusia. Para ahli bahasa mulai melihat bahwa bahasa adalah manifestasi dari perkembangan umum yang merupakan aspek kognitif dan aspek afektif yang menyatakan tentang dunia diri manusia itu sendiri.
Teori kognitif menekankan hasil kerja mental, hasil kerja yang nonbehavioris. Proses-proses mental dibayangkan sebagai yang secara kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dapat diobservasi. Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur di dalam bahasa yang ia dengar di sekelilingnya. Baik pemahaman maupun produksi serta komprehensi, bahasa pada anak dipandang sebagai hasil proses kognitif yang secara terus-menerus berkembang dan berubah. Jadi, stimulus merupakan masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada otak ini terjadi mekanisme internal yang diatur oleh pengatur kognitif yang kemudian keluar sebagai hasil pengolahan kognitif tadi.
Teori kognitif telah membawa satu persoalan dalam pemberian organisasi kognitif bahasa anak. Persoalan itu, yakni belum ada model yang terperinci yang memeriksa organisasi kognitif bahasa anak itu. Untunglah Slobin telah menformulasikan sejumla prinsip operasi yang telah menarik perhatian para ahli, Clark dan Clark (Hamied,1987:22-23) telah menyusun kembali dan memformulasikan prinsip operasi Slobin tersebut.
Prinsip koherensi semantik ada tiga aspek yaitu mencari modifikasi sistematik dalam bentuk kata; mencari penanda gramatis yang dengan jelas menunjukkan perbedaan yang mendasari dan menghindari kekecualian.
Prinsip Struktur lahir meliputi: memperhatikan ujung kata; memperhatikan urutan kata, awalan, dan akhiran; dan menghindari penyelaan atau pengaturan kembali satu-satuan linguistik.
Tiga Prinsip koherensi semantik behubungan dengan peletakan gagasan terhadap bahas, sedangkan tiga prinsip struktur lahir berkenaan dengan masalah segmentasi yaitu bagaimana membagi alur ujaran yang terus-menerus menjadi satuan-satuan linguistik yang terpisah dan bermakna.
Penganut teori kognitif beranggapan bahwa ada prinsip yang mendasari organisasi linguistik yang digunakan oleh anak untuk menafsirkan serta mengoperasikan lingkungan linguistiknya. Semua ini adalah hasil pekerjaan mental yang meskipun tidak dapat diamati, jelas mempunyai dasar fisik. Proses mental secara kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dapat diamati, dan karena berbeda dengan pandangan behavior (Pateda, 1990).
D.    Ragam Pemerolehan Bahasa Anak
Ragam pemerolehan bahasa dapat ditinjau dari berbagi sudut pandangan, sebagai berikut:
1.      Berdasarkan bentuk:
a.       Pemerolehan bahasa pertama
b.      Pemerolehan bahasa kedua
c.       Pemerolehan bahasa ulang (Klein, 1986:3).
2.      Berdasarkan urutan:
a.       Pemerolehan bahasa pertama
b.      Pemerolehan bahasa kedua (Winits, 1981; Stevens, 1984).
3.      Berdasarkan jumlah:
a.       Pemerolehan satu bahasa
b.      Pemerolehan dua bahasa ( Gracia, 1983).
4.      Berdasarkan media:
a.       pemerolehan bahasa lisan
b.      pemerolehan bahasa tulis (Freedman, 1985).
5.      Berdasarkan keaslian:
a.       pemerolehan bahasa asli
b.      pemerolehan bahasa asing (Winits, 1981).

E.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Anak
1.      Faktor Biologis
Setiap anak yang lahir telah dilengkapi dengan kemamuan kodrati atau alami yang memungkinkannya menguasai bahasa. Potensi alami itu bekerja secara otomatis. Chomsky (1975 dalam Santrock, 1994) menyebut potensi yang terkandung dalam perangkat biologis anak dengan istilah Piranti pemerolehan bahasa (Language Acquisition Devives). Dengan piranti itu, anak dapat menercap sistem suastu bahasa yang terdiri atas subsitem fonologis, tata bahasa, kosakata, dan pragmatik, serta menggunakannya dalam berbahasa.
Perangkat biologis yang menentukan anak dapat memperoleh kemampuan bahasanya ada 3, yaitu otak (sistem syaraf pusat), alat dengar, dan alat ucap.
Dalam proses berbahasa, seseorang dikendalikan oleh sistem syaraf pusat yang ada di otaknya. Pada belahan otak sebelah kiri dikendalikan oleh sistem syaraf pusat yang ada di mengontrol produksi atau penghasilan bahasa, seperti berbicara dan menulis. Pada belahan otak sebelah kanan terdapat wilayah wernicke yang mempengaruhi dan bagian otak itu terdapat wilayah motor suplementer. Bagian ini berfungsi untuk mengendalikan unsur fisik penghasil ujaran. Berdasarkan tugas tenaga bagian otak itu, alur penerimaan dan penghasilan bahasa dapat disederhanakan seperti berikut. Bahasa didengarkan dan dipahami melalui daerah Wernicke. Isyarat bahasa itu kemudian dialihkan ke daerah Broca untuk mempersiapkan penghasilan balasan. Selanjutnya isyarat tanggapan bahasa itu dikirimkan ke daerah motor, seperti alat ucap, untuk menghasilkan bahasa secara fisik.
2.      Faktor Lingkungan Sosial
Untuk memperoleh kemampuan berbahasa, seorang anak memerlukan orang lain untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Anak yang secara sengaja dicegah untuk mendegarkan sesuatu atau menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi, tidak akan memiliki kemampuan berbahasa. Mengapa demikian? Bahasa yang diperoleh anak tidak diwariskan secara genetis atau keturunan, tetapi didapat dalam lingkungan yang menggunakan bahasa. Atas dasar itu maka anak memerlukan orang lain untuk mengirimkan dan menerima tanda-tanda suara dalam bahasa itu secara fisik. Anak memerlukan contoh atau model berbhasa, respon atau tanggapan, secara temah untuk berlatih dan beruji coba dalam belajar bahasa dalam konteks yang sesungguhnya.
Dengan demikian, lingkungan sosial tempat anak tinggal dan tumbuh, seperti keluarga dan masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pemerolehan bahasa anak. Lalu, bagaimana kaitan lingkungan sosial dengan perangkat biologis yang telah dimiliki anak lahir? Apakah kalau unsur biologis anak normal masih tetap memerlukan lingkungan sosial untuk mendapatkan kemampuan berbahasanya?
Kaitan keduanya sangat erat, tak terpisahkan. Kehilangan salah satu dari keduanya akan mengakibatkan anak tidak mampu berbahasa. Jika disederhanakan piranti biologis adalah wadah atau alat maka lingkungan berperan memberi isi atau muatan. Apabila digambarkan maka bentuknya seperti berikut.
Banyak bukti menunjukkan bahwa otak alat dengar dan alat ucap, memiliki peran dasar sangat penting. Gangguan pada salah satu dari ketiganya akan sangat menghambat bahasa anak. Lennerberg (1975 dalam Cahyono, 1995) membuktikannya melalui penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak tunarungu, lemah mental, dan tnawicara.
Dari kajiannya mengenai anak-anak tunarungu, Lennerberg menemukan fakta berikut. Tiga belum setelah dilahirkan anak-anak tunarungu dapat menghasilkan bunyi-bunyi yang sama seperti anak normal. Dari bulan keempat hingga bulan kedua belas, hanya sebagian bunyi yang mereka hasilkan sama dengan anak normal. Setelah itu, bunyi-bunyi yang mereka hasilkan lebih terbatas dari pada bunyi-bunyi yang diproduksi anak yang berpendengaran normal.
Hasil pengajaran terhadap anak-anak tunarungu menunjukkan bahwa peluang mereka untuk belajar menggunakan suara dan alat ucapnya sangat kecil. Ketika mereka berusaha berbicara, kualitas suara mereka berubaha dengan tekanan yang kurang biak serta pula informasi yang tak terkendali.
Anak-anak lemah mental cenderung mengartikulasikan tuturannya secara lemah dengan gramatika yang banyak mengandung kesalham. Kesalahan itu kadang-kadang pembicarannya bahwa mereka kurang memahami apa yang disampaikannya dan topik pembicarannya kabur, kurang terarah.
Berdasarkan kajian Lennerberg, anak-anak tunarungu tidak dapat berceloteh dan menirukan kata. Mereka tidak dapat memiliki kemampuan mengartikulasikan atau membunyikan tuturannya secara normal. Hal ini disebabkan adanya gangguan alat ucap mereka. Meskipun demikian, mereka dapat memahami tuturan dengan relatif baik.
Demikianlah uraian mengenai peranan unsur biologis yang akibatnya lebih rendah terjadinya pemerolehan bahasa anak. Hambatan biologis yang akibatnya lebih rendah dalam pemilikan bahasa dapat anda amati pada anak-anak gagap, cadel, atau sengau.
Konsep lingkungan sosial di sini mengacu kepada berbagai perilaku berbahasa setiap individu, seperti orang tua, saudara, anggota masyarakat sekitar, dalam mendukung perkembangan bahasa anak. Dukungan dan keterlibatan sosial ini diperlukan anak. Inilah yang disebut Bruner (1983 dalam Santrock, 1994) sebagai sistem pendukung pemerolehan bahasa (langsung acquisition supprot system).
Kita semua tahu bawah pemakai bahasa yang baik itu harus memiliki dua hal. Pertama dia harus menguasai sistem atau aturan bahasa yang digunakannya. Kedua, dia juga harus memehami dan menguasai aturan sosial penggunaan bahsa itu. Kita akan menyebut kurang ajar apbila seorang anak berbahasa dengan gurunya menggunakan ragam dan cara bahasa seperti dengan kawa sebayanya. Nah, apabila piranti biologis memungkinkan anak memahami sistem bahasanya maka lingkungan sosial memberikan kesempatan baginya untuk berinteraksi dengan bahasa yang dimilikinya sehingga bahasanya berfungsi secara wajar. Berikut ini adalah beberapa cara sosial itu memberikan dukungan kepada anak dalam belajar bahasa:
a. Bahasa semang (motheresse) yaitu penyederhanaan bahasa oleh orang tua atau orang dewasa lainnya ketika berbicara dengan bayi anak kecil. Misalnya, “Napa chayang? Mau mimi, iya? Bentar, ya!”
b. Parafrase, yaitu pengungkapan kembali ujaran yang diucapkan anak dengan cara yang berbeda. Misalnya kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan. Efek parafase ini sangat menolong anak belajar bahasa. Oleh karena itu, orang dewasa sebaiknya membiarkan anak menunjukkan minat serta mengungkapkannya dalam bentuk komentar, demontrasi dan menjelaskan. Menurut Rice (Santrock, 1994), pendekatan direktif atau langsung sewaktu berkomunikasi dengan anak akan mengganggunya. Misalnya:
Anak : “Mammam!”
Ibu : “Oh, maem, chayang?” (Oh maka, sayang?)
c. Menegaskan kembali (echoing) yaitu mengulang apa yang dikatakan anak, terutama apabila tuturannya tidak lengkap atau tidak sesuai dengan maksud. Misalnya:
Anak : “Mah itu!” sambil menunjuk. Mukanya seperti ketakutan.
Ibu : “Oh, cecak, Rani takut cecak? Nggak apa-apa. Cecak baik, kok!”
Anak : “Iya!”
d. Memperluas (expanding) yaitu mengungkapkan kembali apa yang dikatakan anak dalam bentuk kebahasaan yang lebih kompleks.
e. Menamai (labeling), yaitu mengindentifikasi nama-nama benda. Bisa dalam bentuk benda sebenarnya atau benda tiruan (realia), gambar, permainan kata, dan sebagainya.
f. Penguatan (reinforcement) yaitu menanggapi atau memberi respon positif atas perilaku bahasa anak. Misalnya, dengan memuji, memberi acungan jempol, dan tepuk tangan.
g. Pemodelan (modelling), yaitu contoh berbhasa yang dilakukan orang tua atau orang dewasa (Santrock, 1994; Benson, 1998).
Semakin kuat rangsangan dan dukungan sosial terhadap bahasa anak, akan semakin kaya pula masukan dan kemampuan berbahasanya. Sebaliknya, apabila dukungan sosial itu kurang atau negatif maka masukan bahasa anak pun akan sedikit. Dengan demikian, tingkat masukan bahasa yang diperoleh anak akan mempengaruhi tingkat perkembangan bahasanya. 
Begitu pentingnya peranan unsur atau lingkungan sosial terhadap pemerolehan bahasa anak. Seandainya saja seorang anak normal diasingkan dan tumbuh di lingkungan hutan, di antara hewan-hewan hutan, niscaya bahasa hewanlah yang akan dikuasainya. Anda setuju dengan pendapat itu?
Selain faktor biologis dan sosial, ada unsur lain yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak-anak. Kedua faktor itu adalah intelegensi dan motivasi.
3. Faktor Intelegensi
Intelengesi adalah daya atau kemampuan anak dalam berpikir atau bernalar. Zanden (1980) mendefinisikannya sebagai kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Intelengesiini bersifat abstrak dan tak dapat diamati secara langsung. Pemahaman kita tentan tingkat intelengensi seseorang hanya dapat disimpulkan melalui perilakunya. 
Kemudian, bagaimana pengaruh faktor untuk mengatakan bahwa anak yang bernalar anak? Sebenarnya, penulis tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa anak yang bernalar tinggi lebih tinggi akan lebih sukses dari pada anak yang berdaya nalar pas-pasan kecuali, tentu saja anak-anak yang sangat rendah intelegensinya seperti yang telah dijelaskan pada faktor bilogis, dapat belajar dan memperoleh bahasa dengan sukses. Perbedaannya terletak pada jangka waktu dan tingkat kreativitas. Anak yang berintelengensi tinggi, tingkat pencapaian bahasanya cenderung lebih cepat, lebih banyak dan lebh bevariasi bahasanya dari pada anak-anak yang bernalar sedang atau rendah.
4. Faktor Motivasi
Benson (1988) menyatakan bahwa kekuatan motivasi dapat menjelaskan “Mengapa seorang anak yang normal sukses mempelajari bahasa ibunya”. Sumber motivasi itu ada 2 yaitu dari dalam dan luar diri anak.
Dalam belajar bahasa seorang anak tidak terdorong demi bahasa sendiri. Dia belajar bahasa karena kebutuhan dasar yang bersifat, seperti lapar, haus, serta perlu perhatian dan kasih sayang (Goodman, 1986; Tompkins dan Hoskisson. 1995). Inilah yang disebut motivasi intrinsik yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Untuk itulah mereka memerlukan kemunikasi dengan sekitarnya. Kebutuhan komunikasi ini ditunjukkan agar dia dapat dipahami dan memahami guna mewujudkan kepentingan dirinya.
Dalam perkembangan selanjutnya si anak merasakan bahwa komunikasi bahasa yang dilakukannya membuat orang lain senang dan gembira sehingg dia pin kerap menerima pujian dan respon baik dari mitra bicaranya. Kondisi ini memacu anak untuk belajar dan menguasai bahasanya lebih baik lagi. Nak karena dorongan belajar anak itu berasal dari luar dirinya maka motivasinya disebut motivasi ekstrinsik.


F.      Strategi Pemerolehan Bahasa Anak
Berbeda dengan orang dewasa, anak kecil cenderung lebih cepat belajar dan menguasai suatu bahsa. Dalam lingkungan masyarakat bahasa apa pun mereka hidup anak-anak hanya memerlukan waktu relatif sebentar untuk menguasai sistem bahasa itu. Apalagi kalau mereka berada dalam lingkungan bahasa ibunya (Bahasa Pertama)
Sebenarnya strategi apa yang ditempuh anak-anak dalam belajar bahasa sehingga dengan cepat mereka dapat menguasai itu. Padahal mereka tidak sengaja belajar atau diajari secara khusus. Ternyata, untuk memperoleh kemampuan bahasa lisannya mereka melakukannya dengan berbagai cara seperti di bawah ini.
1.      Mengingat
Mengapa memainkan peranan penting dalam belajar bahasa anak atau belajar apa pun. Setiap pengalaman indrawi yang dilalui anak, direkam dalam benaknya. Ketika dia menyentuh, mencerap, mencium, melihat, dan mendengar sesuatu, memori anak menyimpangnya. Pancaindra itu sangat penting bagi anak dalam membangun pengetahuan tentang dunianya.
Pada setiap awal belajar bahasa, anak mulai membangun pengetahuan tentang kombinasi bunyi-bunuyi tertentu yang menyertai dan merujuk pada sesusatu yang dia alami. Ingatan itu akan semakin kuat, terutama apabila penyebutan akan benda atau peristiwa tertentu terjadi berulang-ulang. Dengan cara ini, anak-anak mengingat kata-kata tentang sesusatu sekaligus berulang-ulang pula cara mengucapnya.
Hanya saja, khasanah bahasa yang diingat anak ketika diucapkan tidak salah tepat. Mungkin lafalnya kurang pas atau hanya suku kata awal atau akhirnya saja. Hal ini terjadi karena pertumbuhan otak dan alat ucap anak masih sedsang berkembang. Dia menyimpan kata yang dia dengar, yang dia diperlukan dalam memorinya. Dia pun mencoba mengatakannya. Namun tingkat perkembangannya yang belum memungkinkan dia melafalkan tuturan sesempurna orang dewasa. Oleh kareana itu, dalam berbahasa biasanya anak dibantu oleh ekspresi, gerak tangan atau menunjuk benda-benda tertentu. Inilah versi bahasa anak.
Mengingat kondisi itu, dalam berkomunikasi dengan anak biasanya orang tua atau orang dewasa menyederhanakan bahasanya. Penyerderhanaan itu diwujudkan dalam tuturan yang pelan, ekspresif, dan modifikasi kata yang mudah diingat dan diucapkan anak, seperti kata “pus” untuk kucing, “mimi” untuk minum, “mamam” atau “Ma’em” untuk makan, “bobo” tidur, dan “pipis” untuk kencing.
2.      Meniru
      Strategi penting lainnya yang dilakukan anak dalam belajar bahasa adalah peneriuan. Perwujudan strategi ini sebenarnya tak dapat dipisahkan dari strategi mengingat. Kemudian apakah peniruan yang dilakukan dalam belajar bahasa itu seperti beo? Apakah dia meniru bulat-bulat dan hanya sekedar mengulang kembali apa yang didengarnya?
      Perkataan anak tidaklah selalu merupakan pengulangan searah persis apa yang didengarnya, seperti halnya beo. Cobalah anda amati atau minta seorang anak mengulang suatu tuturan yang dicontohlan. Anda akan menemukan bahwa tuturan anak cenderung mengalami perubahan. Perubahan itu daopat berupa pengurangan, penambahan, dan penggatian kata atau pengurutan susunan kata. Mengapat begitu?
      Sedikitnya ada 2 penyebab. Penyebab pertama, berkaitan dengan perkembangan otak, penguasaan kaidah bahasa, serta alat ucap. Dengan demikian anak hanya akan mengucapkan tuturan yang telah dikuasainya. Penyebab kedua, berkenaan dengan kreativitas berbahasa anak. Di suatu sisim secsara bertahap dia dapat memahami dan menggunakan suatu sistem bahasa yang memungkinkan dia mengerti dan memproduksi jumlah tuturan yang tak terbatas. Keadaan ini mendorong anak senang melakukan percobaan atau eksperimen dalam berbhasa. Percobaan ini terus berlangsung sampai kemampuan berbahasanya berpindah pada tingkat yang lebih kompleks.
      Atas dasar itu pula, tampaknya sulit bagi anak untuk meniru bulat-bulat tuturan orang dewasa. Sebab, apabila anak berkonsentrasi pada tuturan tersebut maka perkembangan kemampuan komunikasinya akan sangat terganggu. Hasilnya pun akan sangat terbatas (MaCaualay, 1980). Oleh karena itu tak perlu heran apabila suatu ketika anda mendengar anak mampu memproduksi tuturan yang belum pernah anda dengar sebelumnya. Hal ini terjadi karena dalam belajar bahasa, seorang anak tidak sekedar menangkap kata-kata. Dia juga mencerna prinsip-prinsip organisasi bahasa secara alami. Dengan demikian, sifat peniruan anak cenderung bersifat dinamis dan kreatif.  Oleh karena strategi peniruan itu pula maka model (orang) yang memberikan masukan kebahasaan kepada anak sangat mempengaruhi corak bahasa yang baik. Sebaliknya, apabila modelnya kurang baik maka versi bahasa yang kurang baik itulah yang akan dipelajarinya.
3.      Mengalami Langsung
Strategi lain yang mempercepat anak menguasai bahasa pertamanya adalah mengalami langsung kegiatan berbahasa dalam konteks yang nyata. Anak menggunakan bahasanya baik ketika berkomunikasi dengan orang lain, maupun sewaktu sendirian. Dia menyimak dan berbicara langsung, dan sekaligus memperoleh tanggapan dari mitra bicaranya. Dari tanggapan yang diperolehnya, secara tidak sadar anak memperoleh masukan tentang kewajaran dan ketepatan perilaku berbahasanya, dan dalam waktu yang sama juga si anak mendapat masukan dari tindak berbahasa yang dilakukan mitra berbicaranya.
4.      Bermain
Kegiatan bermain sangat penting untuk mendorong pengembangan kemampuan berbahasa anak. Dalam bermain, si anak kadang berperan sebagai orang dewasa, sebagai penjual atau pembeli dalam bermain dagang-dagangan, ibu, bapak atau anak dalam bermain rumah-rumahan, sebagai dokter atau perawat atau pasien atau sebagai guru atau murid dalam bermain sekolah-sekolahan.
G.    Pengaruh Pembelajaran dalam Pemerolehan Bahasa Anak
1.      Pengaruh pembelajaran pada urutan pemerolehan bahasa
Untuk dapat belajar bahasa Indonesia dengan baik, anak-anak hendaknya juga memiliki kesiapan psikolinguistik. Untuk dapat memiliki kesiapan psikolinguistik anak-anak hendaknya memperoleh kesempatan untuk paling tidak mendengar penggunaan bahasa Indonesia dilingkungan keluarganya.lebih baik lagi kalau dilingkungan keluarganya terdapat Koran, majalah, dan buku-buku dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan anak.
2.      Pengaruh pembelajaran pada proses pemerolehan bahasa
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia disekolah, khususnya bagi anak-anak di kelas rendah sekolah dasar ialah bahwa pembelajaran bahasa Indonesia disekolah tentu juga mempunyai pengaruh yang paling besar dalam pemerolehan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kondisi yang sebaik-baiknya perlu diupayakan agar anak-anak memperoleh pengalaman berbahasa sebanyak –banyaknya dengan memperhatikan kaidah bahasa yang berlaku. Namun, perlu diingat jangan sampai pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menekankan pada penggunaan kaidah semata. Pemerolehan bahasa yang mendekati pemerolehan bahasa yang alami perlu di usahakan. Caranya dengan menggunakan konteks-konteks berbahasa yang sebenarnya, yang dekat dengan kehidupan anak. Misalnya saja dimunculkan topik-topik “menjaga adik”, “membantu ayah dan ibu”, silaturahmi dengan sanak famili”, “bermain bola”, dan sebagainya.
3.      Pengaruh pembelajaran pada kecepatan pemerolehan bahasa
Long (1983) lewat Freeman dan Long (1991) mengkaji sebelas hasil penelitian tentang capaian belajar bahasa kedua, yang menggunakan tiga kelompok belajar yaitu yang memperoleh pembelajaran saja, yang memperoleh pembelajaran dan juga berada dalam lingkungan yang menggunakan bahasa yang dipelajari , dan yang memperoleh bahasa secara alami tanpa pembelajaran disekolah. Ia menemukan, enam penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima pembelajaran bahasa disekolah mengalami perkembangan pemerolehan bahasa lebih cepat.





























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Bahasa adalah: Sistem simbol vokal yang arbitrer dalam suatu kebudayaan tertentu,yang memiliki khas dan ciri tertentu. Digunakan oleh suatu masyarakat untuk berinteraksi,dan bekerja sama.
Pada hakikatnya pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998).
Beberapa teori pemerolehan bahasa pada anak diantaranya yaitu:
1.      Teori Pemerolehan Bahasa Behavioristik
2.      Teori Pemerolehan Bahasa Mentalistik
3.    Teori Akuisisi Bahasa Kognitif
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Anak
  1. Faktor Biologis
2.      Faktor Lingkungan Sosial
3.      Faktor Intelegensi
4.      Faktor Motivasi

B.     Saran
      Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui tentang pemerolehan bahasa anak serta dapat mengetahui apa pengaruh pembelajaran terhadap pemerolehan bahasa anak, sehingga dapat memberikan pembelajaran yang sesuai pada anak.


Daftar Pustaka




Tidak ada komentar:

Posting Komentar